Popular Posts

Monday, October 29, 2012

Chandradimuka Off Road National Event 2013


Tipe Cowok Idaman Bagi Mayoritas Cewek

Special buat agan-agan yg lagi stress, gallauuuu, skr refresh bentar ya...??? 
Ane ada sedikit cerita yg bisa bikin gigi agak kering dikkit...yuks langsung ke TKP aje....hehehe.....

Cewek : Mas kerja dimana?
Cowok : Saya cuma usaha beberapa hotel bintang 4 dan 5 di Jakarta dan Bali…

Cewek : (WAW…Konglomerat pasti!) Mas tinggal dimana?
Cowok : Pondok Indah Bukit Golf…

Cewek : (WAW kereenn…Rumah Orang-orang “The Haves”Pasti gede rumahnya yah…?
Cowok : Ngga ah…Biasa aja koq…cuma 3000 m2…

Cewek : (Busett!) Pasti mobilnya banyak yah…?
Cowok : Sedikit koq…Cuma ada Ferrari. Jaguar. Mercedes. BMW. Mazda…

Cewek : (Wah cowok idaman gue nihh!!) Mas uda punya istri…?
Cowok : Hmm…Sampai saat ini belum tuh…hehe…

Cewek : (Enak juga nih kalu gue bisa jadi bininya…) Mas merokok??
Cowok : Tidak…rokok itu tidak bagus untuk kesehatan tubuh…

Cewek : (Wah sehat nihh!) Mas suka minum-minuman keras?
Cowok : Tidak donk…

Cewek : (Gilee…Cool abissss!!) Mas suka maen judi??
Cowok : Nggak…ngapain juga judi? ngabisin duit aja

Cewek : (Oooughhhh…So sweett…) Mas suka dugem gitu ga??
Cowok : Tidak tidak…

Cewek : (Iihh…sholeh banget nih cowok!) Mas udah naik haji?
Cowok : Yah…baru 3x dan umroh paling 6x…

Cewek : (Subhanallah…calon surgawi…) Hobinya apa sih mas?
Cowok : BOHONGIN orang……

wkwkwkwkwk.....mampush loe.................. :-p

Sumber : 

Friday, October 26, 2012

Persetan dengan Idoel, Kurban !


Hari Raya Idhul Adha atau sering di sebut dengan istilah Badha Besar bagi orang jawa sudah berlalu satu hari yang lalu. ( Jum’at 26 Oktober 2012 ). Kawan satu kampung saya namanya Kang Idoel dengan bangganya menceritakan bahwa saudaranya hari itu telah berkurban 20 ekor sapi besar. Ia bagi-bagikan pada orang-orang yang membutuhkan. Dalam hati, hare gene sapa juga yang gak butuh daging…? Mau miskin atau kaya juga pingin makan daging…., knapa kalimatnya tidak di ganti saja dengan “ membagi-bagikan pada fakir miskin / kaum dhuafa yang membutuhkan ? “ trus km kurban apa dunk kang idoel…??? Tanyaku dengan nada agak sedikit keheranan. Ya…aku si hanya ikut motongin dagingnya aja kang bro…., jawan idul agak sedikit lirih. Hm……..yayaya…

Sekilas cerita pendek tadi mencerminkan bahwa belum ada kebanggan atas kemampuan diri, atas pengorbanan diri terhadap suatu hal. Kebanyakan kita lebih bangga menceritakan kehebatan dan keberhasilan orang lain di luar diri kita. Kita bangga terhadap keberhasilan kota lain di luar kota kita, kita bangga menceritakan kedahsyatan bangsa lain dibandingkan dengan kehebatan bangsa kita. Kita bangga menceritakan budaya bangsa lain sementara budaya sendiri kita pun tidak mengenalnya. 

Idhul Adha adalah guru super dahsyat !!! bahwa tidak ada yang namanya cinta tanpa bukti adanya pengorbanan. Pertanyaan-nya adalah…, Jika kita mencintai kedua orang tua kita, pengorbanan apa yang sudah kita lakukan untuknya? Jika kita mencintai saudara – saudara kita, baik saudara sebangsa, saudara se-agama, saudara suku ataupun saudara kandung sekalipun, pengorbanan apa yang sudah kita lakukan untuk mereka ? jika kita mencintai pasangan hidup kita dan atau keluarga kita, pengorbanan apa yang sudah kita persembahkan untuknya ? jika kita mencintai profesi yang kita tekuni, sudah sejauh mana pengorbanan ini kita lakukan hingga orang lain dapat menyebut kita sebagai seorang yang professional dibidang profesi tersebut? Dan jika kita mencintai Rasullullah SAW dan juga Tuhan Alloh SWT, Pengorbanan apa juga yang sudah kita persembahkan sebagai wujud cinta dan pengabdian kita ? 

Sekecil apapun yang sudah kita perbuat untuk suatu kebaikan baik itu dalam rangka membangun kwalitas diri, lingkungan, masyarakat, kota, agama dan juga bangsa adalah suatu pengorbanan yang patut kita hargai. Kita boleh bangga atasnya. Sebab sedikit pengorbanan ini lebih baik dari pada menuntut, protes atau demo. Ini bukan berarti kita menolak demo, untuk menuntut hak akan suatu hal. 

Jadi kalau kang Idoel terus menerus menceritakan saudaranya itu dan tidak bangga dengan apa yang sudah ia perbuat dalam rangka mensukseskan program-nya saudaranya itu, maka jawabku adalah “ Persetan dengan Idoel Qurban !!! Sebab Kang Idoel tidak pede atas apa yang sudah ia lakukan oleh dirinya “. 

Sunday, October 21, 2012

Tekhnik Menyerang Paling Baik adalah BERTAHAN


hehehe....sy update di blog ach....ada yg menarik di pagi jelang siang hari ini...., senin, 22 Okt 2012 di Wall Facebook-ku

Banyak yang tidak setuju dengan status itu sebab ya begitulah cara pandang kebanyakan masyarakat kita saat ini. Tidak bisa menerima sesuatu yang baru yang berbeda dari pakem yang ada. Walau itu hanya sekedar pemikiran. 

Sementara saya tidak terlalu berharap bahwa kawan-kawan setuju ataupun tdk setuju. Cuma dengan penjelesan yang saya sampaikan apakah bisa di terima atau tidak itu terserah anda semua. Saya hanya memberikan analogi-analogi kejadian-kejadian yang real bukan hanya ada di film. 

Tets go to sreen shoot dialognya ya gan…hehehhee……kali aja ada manfaat-nya....



Lanjut, Lets Share Here Again....
and tengkyew buat kawan-kawna yang dah share di Wall Facebook-ku ya....lope u polll pokokke...hehehehe.......
hehehehe....



Saturday, October 20, 2012

Pramugari Paling Kreatif dan Cantik asal Banjarnegara

Angger ngemben Banjarnegara due Bandara dhewek, kayane kaya kie woro-woro sekang Pramugari sedurung montor mabure mangkat.

“Dulur dulur penumpang, sedela maning montor mabur arep mangkat. Sedurunge inyong karo pramugari liyane arep nidokna cara-cara ngadepi kahanan darurat.”

“Klambi plembungan ana neng dlesepan ngisor korsi, denggo nek montor mabur mandeg neng nduwur banyu. Carane njikot klambi sekang dlesepan terus denggo, tarik taline ben klambine mlembung. Pipa karet dedamu ben lampune kelap kelip dadi bisa dedeleng sekang kadohan. Klambi kuwe aja decolong atawa degawa balik, nek kewenangan bisa detempiling.”


“Montor mabur kiye delengkapi nem lawang, loro nang ngarep, loro nang cewiwi terus loro maning nang buritan. Nek pesawat kurang hawa nggo ambekan, mengko metu dewek masker oksigen sekang loteng. Nek masker mecotot, gageyan denggo, ambekan kaya biasane, aja ngos-ngosan, marakna liyane pada wedi.”


“Semono pengumuman sekang inyong, nek arep maca majalah apa koran, kuwe ana neng dlesepan korsi ngarepe rika kabeh, Majalah Derap Serayu ya ana. Nek arep nguyuh, kakuse nang mburi. Aja nguyuh mbari udud nek konangan detempiling. Aja nguyuh ning kakus ngarep, kae kakuse wong sugih.”


“Wis ya inyong wis kesel, moga-moga kabeh slamet seger waras bisa mudun maning. Kaya kuwe kesuwun.”

Sumber : Website Resmi Pemda Mbanjar 

Wednesday, October 17, 2012

DUNIA BELUM SIAP DENGAN PERDAGANGAN BEBAS

Reaksi terhadap pertemuan APEC di Filipina beragam. Beberapa negara anggauta, tentu saja termasuk tuan rumah Filipina, menganggap pertemuan tersebut sukses. Lebih dari itu, hasil substantif juga mereka anggap sangat positif. Reaksi yang sangat berbeda datang dari negara anggauta lain, termasuk AS. Mereka beranggapan bahwa tidak banyak kemajuan yang dicapai dari pertemuan itu. Walaupun soal liberalisasi teknologi informasi (yang diusulkan AS) akhirnya disepakati, tidak ada komitmen keharusan bagi semua negara anggauta untuk mentaatinya. Semua mendapat payung kata "fleksible" yang dalam kenyataan artinya tidak mengikat. Jadi, dalam soal inipun secara substantif pertemuan APEC di Filipina tidak memberi hasil yang terlalu banyak.


Dibandingkan dengan beberapa pertemuan sebelumnya, pertemuan kali ini memang sekedar melanjutkan rencana yang disepakati sebelumnya, dari Seattle, Bogor, dan Osaka. Bedanya, kali ini tiap negara harus mengajukan Individual Action Plan (IAP), dan ternyata sebagian besar, termasuk Indonesia, mengusulkan hal hal yang tidak baru. Misalnya, dalam IAP yang diusulkan Indonesia tarif yang saat ini masih lebih dari 20% akan diturunkan sampai maksimum 20% tahun 1998, dan maksimum 10% tahun 2003. Sedangkan untuk yang saat ini tarifnya 20% atau kurang, akan diturunkan menjadi maksimum 5% pada tahun 2000. Ini persis sama dengan apa yang dicanangkan di Osaka. Negara anggauta lain juga melakukan hal serupa. Bahkan Jepang mundur selangkah dari komitmen Osaka, dengan merubah tarif maksimum dari 5% menjadi 10%. Australia juga tergolong mengecewakan.

Bagi dunia pers, hal ini tidak terlalu menggembirakan, karena tidak ada berita yang "sexy." Lihat saja pemberitaan di media masa. Di AS pemberitaan tentang APEC sangat minim, bahkan ada satu atau dua justeru menyimpulkan opini skeptis tentang APEC. Di media Asia, kecuali tuan rumah Filipina, pemberitaan APEC juga datar datar saja. Kalau di Singapura agak banyak, hal itu karena mereka berkepentingan untuk mengkaitkan prinsip perdagangan bebas APEC dengan WTO yang akan mengadakan pertemuan puncaknya bulan depan di Singapura. Secara substantif, berita di negara itu lebih mendalam tentang pertemuan WTO bulan depan, bukan tentang APEC sendiri.
Apakah memang negara anggauta mulai skeptis dengan APEC? Ataukah mereka makin kurang percaya dengan prinsip perdagangan bebas?

Kawasan Pasifik, dan dunia pada umumnya, memang ternyata belum siap dengan sistem perdagangan bebas dalam arti yang sebenarnya. Di Eropa semua sibuk dengan upaya memenuhi persyaratan Maastricht, dan banyak yang percaya bahwa perjalanan mereka masih jauh. Secara diam diam pejabat European Union (EU) yang aktif dalam pertemuan di Jenewa baru baru ini mengakui bahwa beberapa negara anggauta EU menganggap negosiator mereka di Uruguay Round terlalu berani dengan usulan penurunan tarif. Di bidang pertanian, kita tahu Jepang dan Korea mati-matian menolak membuka pasar beras mereka. Korea hanya mau janji membuka secara bertahap mulai tahun 2010. Apa kita yakin tahun 2010 nanti benar benar beras impor bisa masuk Korea? Rasanya tidak.

Di AS suara publik makin tidak menghiraukan APEC. Paling-paling hanya lingkungan Dupont circle dan sebagian kecil inside the belt way. Disamping persoalan dalam negeri mereka yang makin menuntut sikap proteksionis, pada akhirnya apa yang dikuatirkan beberapa pengamat sosial di awal pembentukan APEC mungkin memang benar benar terjadi. Kekuatiran mereka berkaitan dengan perbedaan sistem nilai antar-anggauta. Singkatnya, nilai barat bertemu dengan nilai timur. Hal ini tidak mungkin kata mereka. Sebaliknya, para pendukung APEC berseloroh, perbedaan sistem nilai tidak penting sejauh manfaat ekonomi dan bisnis dapat diperoleh. Memang, pendapat ini banyak benarnya, tapi tetap ada batasnya. Di saat sistem nilai mulai di permasalahkan dan dikaitkan dengan kebijakan perdagangan (misalnya soal hak buruh, hak azasi, lingkungan, individualisme dll), maka ceritanya bisa lain.

Baru baru ini, guru besar Harvard yang kesohor dan banyak didengar pendapatnya, Samuel Huntington, bahkan mengatakan bahwa sebaiknya negara barat (AS dan Eropa) kembali ke "asal" nya dengan memperkuat integrasi ekonomi dan politik antar-mereka, bukan dengan bangsa lain seperti Asia dan Amerika Latin. Yang lebih "mengerikan", dia menutup pendapatnya dengan kalimat berikut:

"Neither globalism nor isolationism, neither multilateralism nor unilateralism will best serve American interests. Its interest will be most effectively advanced if AS eschews those extremes and instead adopts an Atlanticist policy of close cooperation with its European partners, one that will protect and promote the interests, values, and culture of the precious and unique civilization they share."

Dalam praktek perdagangan bebas, AS sebenarnya juga tergolong macan kertas. Dari posisinya yang keras menuntut liberalisasi sektor pertanian, yang sangat ditentang oleh Eropa, mereka akhirnya tunduk juga pada EU. Perubahan posisi ini yang kemudian membuat Putaran Uruguay berhasil diselesaikan tahun 1994. Tapi, prinsip perdagangan bebas jelas dikorbankan, apapun alasannya. Sebenarnya, tekanan dalam negeri AS berada di belakang pelunakan sikap tersebut. Suatu pasal dalam undang undang pertanian AS yang dikeluarkan baru baru ini dengan tegas menyebutkan bahwa "tidak semua sektor pertanian siap untuk masuk ke pasar bebas".

Di bidang jasapun sama saja. AS tidak berniat untuk menciptakan perdagangan bebas di sektor jasa; yang mereka inginkan hanya akses pasar yang lebih besar bagi industri jasa mereka. Lalu masih ada cerita lama tentang lobi buruh industri di AS yang terpukul oleh produk impor dari negara berkembang. Suara "Buchanan" tetap kuat dan masih mempunyai pengikut setia di AS.
Amerika Latin mempunyai cerita yang tidak berbeda. Walaupun sudah ada FTAA dan Mercosur, banyak negara anggauta yang tidak terlalu bersemangat. Ambil contoh Brasil. Dengan defisit perdagangan yang makin besar, mudah dimengerti mengapa mereka cenderung menangguhkan ide pasar bebas. Satu per-satu negara di kawasan ini mulai memasuki masa sulit lagi setelah tanda tanda kebangkitan sempat muncul di awal tahun 1990an. Bahkan rising star Chile juga mulai kesulitan.

Di kawasan Asia Pasifik, pada awal 1990an semua bersemangat dengan perdagangan bebas, dan sejumlah statistik klasik selalu dipaparkan untuk menunjukkan dampak positif dari peningkatan perdagangan di kawasan ini. AFTA dan APEC kemudian lahir. Namun, setelah banyak negara anggauta mengalami kesulitan neraca pembayaran, tindakan mengurangi impor mulai diterapkan. Sekali lagi prinsip perdagangan bebas dikorbankan demi kepentingan nasional. Malaysia melakukannya, Thailand juga serupa, dan Indonesia tidak mau ketinggalan. Baru baru ini menteri keuangan Marie Muhammad memprediksi defisit neraca berjalan kita dapat mencapai 4% GDP tahun ini, lalu dibumbui dengan pernyataan bahwa kenaikan impor merupakan biang keladinya. Singkat kata, semua mau mendorong ekspor, tapi semua juga mau membatasi impor.

Jadi, harus diakui dunia memang belum siap dengan sistem perdagangan bebas. Sistem itu tetap menjadi favorit, didengungkan ber-kali kali di setiap pertemuan, namun kalau sudah sampai tahap praktek (action), mereka cenderung berjalan di tempat. Mungkin faktor ini yang menyebabkan IAP di pertemuan APEC baru baru ini tidak mengandung hal hal yang baru.

Sumber disini >>

Tuesday, October 16, 2012

Sekilas Sejarah ASEAN


Gagasan dasar rancangan lambang ASEAN adalah tanaman padi, nasi adalah makanan pokok kebanyakan rakyat Asia Tenggara dan tanaman padi mungkin adalah tanaman terpenting bagi masyarakat Asia Tenggara. Sepanjang sejarahnya, padi senantiasa dikaitkan dengan kemakmuran, kecukupan pangan, dan kekayaan. Hal ini jelas sesuai dengan impian para bapak pendiri ASEAN yang mengidamkan Asia Tenggara sebagai kawasan yang damai dan makmur. Lambang saat ini berasal dari lambang ASEAN terdahulu, yang juga menampilkan himpunan padi yang terikat yang melambangkan persatuan. Perbedaannya lambang lama hanya terdiri atas enam batang padi yang mewakili lima negara pendiri ASEAN (Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand), ditambah dengan Brunei (mulai bergabung pada 8 Januari 1984). Warna latar lambang lama adalah putih. Tulisan "asean" diletakkan di bawah batang padi dengan latar lingkaran kuning terang dilingkari cincin cyan (biru muda). Baik tulisan "asean" maupun garis tepi lingkaran berwarna cyan, sementara batang padi berwarna coklat keemasan.

Setelah bertambahnya keanggotaan ASEAN dengan masuknya Vietnam sebagai anggota pada tanggal 28 Juli 1995, didorong dengan wawasan ASEAN lengkap yang terdiri atas sepuluh negara Asia Tenggara, terdapat usulan untuk memperbarui lambang ASEAN; menambahkan batang padi untuk membentuk sepuluh batang padi. Tiga negara sisanya; Laos, Birma, dan Kamboja dijadwalkan bergabung pada bulan Juli 1997, untuk merayakan peristiwa bersejarah ini maka lambang baru ASEAN dirancang. Laos dan Birma (Myanmar) bergabung dengan ASEAN pada tanggal 23 Juli 1997, sedangkan Kamboja menunda keanggotaannya karena tengah dilanda masalah politik dalam negeri, dan baru bergabung dua tahun kemudian pada tanggal 30 April 1999. Meskipun saat itu Kamboja belum bergabung, lambang baru ASEAN yang terdiri atas sepuluh batang padi tetap diresmikan pada bulan Juli 1997.

Jadi Jumlah Anggota Negara ASEAN adalah : 
  1. Indonesia
  2. Malaysia
  3. Filipina
  4. Singapura
  5. Thailand
  6. Brunei
  7. Vietnam
  8. Laos
  9. Myanmar
  10. Kamboja 
Selebihanya Click Sini >>> 

                TENTANG ASEAN FREE TRADE AREA (AFTA)


                ASEAN Free Trade Area (AFTA) merupakan wujud dari kesepakatan dari negara-negara ASEAN untuk membentuk suatu kawasan bebas perdagangan dalam rangka meningkatkan daya saing ekonomi kawasan regional ASEAN dengan menjadikan ASEAN sebagai basis produksi dunia serta  serta menciptakan pasar regional bagi 500 juta penduduknya.AFTA dibentuk pada waktu Konperensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke IV di Singapura tahun 1992. Awalnya AFTA ditargetkan ASEAN FreeTrade Area (AFTA) merupakan wujud dari kesepakatan dari negara-negara ASEAN untuk membentuk suatu kawasan bebas perdagangan dalam rangka meningkatkan daya saing ekonomi kawasan regional ASEAN dengan menjadikan ASEAN sebagai basis produksi dunia akan dicapai dalam waktu 15 tahun (1993-2008), kemudian dipercepat menjadi tahun 2003, dan terakhir dipercepat lagi menjadi tahun 2002.Skema Common Effective Preferential Tariffs For ASEAN Free Trade Area ( CEPT-AFTA) merupakan suatu skema untuk 1 mewujudkan AFTA melalui : penurunan tarif hingga menjadi 0-5%, penghapusan pembatasan kwantitatif dan hambatan-hambatan non tarif lainnya.Perkembangan terakhir yang terkait dengan AFTA adalah adanya kesepakatan untuk menghapuskan semua bea masuk impor barang bagi Brunai Darussalam pada tahun 2010, Indonesia, Malaysia, Philippines, Singapura dan Thailand, dan bagi Cambodia, Laos, Myanmar dan Vietnam pada tahun 2015.

                Produk yang dikatagorikan dalam General Exception adalah produk-produk yang secara permanen tidak perlu dimasukkan kedalam CEPT-AFTA, karena alasan keamanan nasional, keselamatan, atau kesehatan bagi manusia, binatang dan tumbuhan, serta untuk melestarikan obyek-obyek arkeologi dan budaya. Indonesia mengkatagorikan produk-produk dalam kelompok senjata dan amunisi, minuman beralkohol, dan sebagainya sebanyak 68 pos tarif sebagai General Exception. 

                Selebihnya click disini >>> 

                Featured Post

                Tetaplah Jadi Lentera

                Saat kebanyakan orang sibuk mencari kesalahan orang lain untuk menyelamatkan diri sendiri, km cukup diam mengamati satu persatu orang&q...