Popular Posts

Monday, August 17, 2015

” BIASA BAE”

Mengupas sisi budaya Dieng Batur Banjarnegara
Oleh Wahono ( Lurah WFC )

Lah gari ” BIASA BAE “ si ngapa ? saya yakin kita sering sekali mendengar kalimat tersebut dalam kehidupan keseharian kita sebagai warga Banjarnegara. Dalam konteks ini saya tidak akan membahas kalimatnya. Tetapi saya justru tertarik untuk membahas dua suku kata yang ada dalam tanda kutip yakni BIASA BAE. Mengapa ? karena kata-kata tersebut telah menjadi sebuah budaya yang mengilhami dalam setiap tatanan kehiduypan rakyat Dieng Batur Banjarnegara.

Dua suku kata BIASA BAE jika kita renungkan secara mendalam terkandung sebuah nasehat yang luar biasa untuk kita semua kaum muda Banjarnegara. Diantaranya makna atau nilai-nilai yang bisa saya jabarkan antara lain ;

1. Andap Asor (Jawa), Rendah Hati (Indonesia), atau Tawadhu’ (Islam).Andhap Asor adalah sifat yang selalu berusaha untuk merendahakan hati tanpa harus merendahkan diri.

Nabi Muhammad saw, juga telah memerintahkan kita untuk selalu bersikap rendah hati. Dalam sebuah hadits beliau bersabda : ” Sesungguhnya Allah SWT telah mewahyukan kepadaku agar kalian bertawadhu‘ (rendah hati), sehingga tak seorang pun menyombongkan diri kepada yang lain, atau seseorang tiada menganiaya kepada yang lainnya”. (HR Muslim)

Sajak untuk Ibu Pertiwi

Hamparan rasa itu begitu luas laksana angkasa raya
Tak sadar kaki ini terus melangkah...
Lebih dari separuh perjalanan waktu....
Kuinjakan jiwa dan raga ini diatas sajadah panjang terbentang
Kutemukan sepenggal jiwa ini berada dalam tebing curam dunia
Kutemukan bagian lain diri ini berada dalam RUH pertiwi
Dan Kutemukan juga bagian lain diri ini tersematkan pada nur sang Kekasih

Ketika jiwa ini letih....
Hatiku bertanya, masihkan kamu setia menemaniku menelusuri jejak sang Nabi....?
Raga ini tergetar, kucuran butir-butir keringat dingin menjadi berlian Perjuangan!
" Aku hanya ingin melihat Ibu Pertiwi ini TersenyumKembali "
Itulah ikrarku pada BUMI...
Itulah ikrarku pada Semesta....
Semakin keras aku dengungkan....semakin kokoh bangunan cinta ini

Wahai para RUH pahlawan bangsa...
Menyatulah kedalam jiwaku saat ini juga...!!!
Tegarkan raga ini untuk melanjutkan cita-cita besarmu
Agar keyakinan ini menjadi PADAT atau RUNTUH sama sekali !!!

Banjarnegara, 17 Agustus 2010
Jabat Erat Jiwa ini untuk Bumi Pertiwi
Wahono

2009, Jumlah Penganguran Inteltual Indonesia mencapai 900.000 lebih !!!

ini tulisan ane di FB, ane repost di blog, supaya tdk ilang.....
Menyimak jumlah angka pengangguran inteltual di bangsa kita membuat hati ini miris. Betapa tdk, ditahun 2007 saja jumlah pengangguran intelktual-nya sudah mencapai diangka 740.000. Dan ditahun 2009 jumlahnya menjadi hampir satu juta atau lebih dari 900.000. (by Suara pembaharuan Jakarta on pidato Rektor Universitas Katolik Atma Jaya, FG Winarno, saat pengukuhan guru besar fakultas teknik Unika Atma Jaya, Prof Hadi Sutanto, di Jakarta, Rabu (17/6)

Di sebutkan dalam pidato tersebut, bahwa salah satu penyebab terjadinya kasus ini karena lemahnya penekanan komitmet dalam menanamkan jiwa wirausaha bagi para mahasiswa. Selain itu juga rendahnya soft skill atau keterampilan di luar kemampuan utama dari sarjana yang bersangkutan. "Data itu baru dua minggu lalu saya dapat dari Dikti (Pendidikan Tinggi)," ujarnya.

minimnya anggaran riset dr pemerintah juga cukup berpengaruh terhadap jumah pengangguran intelektual yang ada di bangsa kita saat ini. Kita dapat bayangkan jika ketentuan dasar dr anggaran riset yang di tetapkan oleh PBB dalam suatu negara adalah sebesar 3% dari GDP (gross domestic product). Bangsa kita baru bisa menetapkan sebasar 0,07 persen. Sebagai pembanding saja, negara tetangga Malaysia mempunyai anggaran riset sebesar 1 persen GDP, Singapura 2,2 persen GDP, serta Korea dan Jepang sebagai negara industri lebih dari 3 persen GDP. Jelas "Ketertinggalan ini secara langsung telah menghambat perkembangan iptek di Indonesia dan semakin meningkatkan ketergantungan kita terhadap produk negara lain," kata bung FG Winarno dalam pidatonya. 

Menulis adalah Ibadah

Allah menciptakan manusia pada hakekatnya untuk beribadah kepadaNya. Dan ibadah sendiri sebagaimana yang kita tahu, ada ibadah yang mahdoh (vertikal) dan ada pula yang ghair mahdoh (horizontal). Salah satu ibadah yang paling spesifik yang Allah perintahkan kepada kita adalah berdakwah. 

Yaitu menyampaikan dan menyeru manusia ke jalan yang benar, mengajak supaya manusia beribadah dan menyembah kepada Allah semata, yang tiada Tuhan selaiNya. Nah, dakwah itu ada yang disampaikan dengan lisan, tulisan, prilaku atau akhlak yang kita lakukan. 

Yang menarik untuk ditelusuri adalah dakwah melalui pena atau tulisan. Berdakwah menggunakan media tulisan adalah salah satu terobosan yang sangat cerdas. Bagaimana seseorang yang kompeten dan mengetahui berbagai disiplin ilmu terutama ilmu Agama, bisa memanfaatkan media tulisan sebagai alat untuk bedakwah. Keutamaan tulis menulis itu sangat bermanfaat bagi umat. Bagaimana jadinya kalau para shohabat Rosul pada zaman dulu tidak menuliskan hadist-hadis yang Rosul keluarkan? pasti kita tidak akan mengenal Nabi kita sendiri. Bagaimana jadinya kalau Imam Al Gozali tidak menuliskan ilmu-ilmunya? pasti kita tidak akan kenal dengan yang namanya Ihya Ulumudin. Bagaimana jadinya kalau para ulama, filosof, ilmuan pada zaman dahulu tidak sempat menuliskan apa-apa yang diketahuinya? pasti kita tidak akan mengenal yang namanya peradaban. 

Memang menarik sekali dunia tulis menulis ini. Karena aktivitas menulis banyak manfaatnya. Mulai dari manfaat yang sederhana sampai manfaat yang cukup lumayan. Seperti yang diungkapkan oleh seoarang penulis senior dari Timur Tengah Fatimah Marnisi, bahwa menulis itu bisa menyehatkan dan bisa menghaluskan kulit wajah serta bisa awet muda. Subhanallah, Dahsyat bukan? Mulai sekarang bagi kita gak ada alasan untul tidak menulis dan gak mau menulis. Sebagaimana yang dikatakan oleh seoarang Agus Ahmad Safei, bahwa: 

• Menulis itu adalah ibadah 
• Menulis itu adalah rohmat 
• menulis itu adalah aktualisasi 
• Menulis itu adalah panggilan 
• Menulis itu adalah seni 
• Menulis itu adalah amanah 
• Menulis adalah pelayanan 
• Menulis adalah kehormatan 

By : FERI ANUGRAH, Warga www.SunanGunungDjati.com 
Reposting by : WAHONO. Warga www.coretanekangwahono.blogspot.com

Sunday, August 16, 2015

Pemimpin Itu Harus Bisa Seperti Penis

Dalam suatu acara pelantikan Taruna Merah Putih, sebuah sayap partai politik dari PDIP. Bung Saeful Muzad, selaku dedengkot PDIP Kab. Banjarnegara,  menceritakan sesuatu yang menurut saya cukup menggelitik. Beliau berkata bahwa, dalam lakon wayang petruk jadi ratu, kie dalang bercerita bahwa seorang pemimpin itu haruslah bisa seperti " KONTOL " ( Penis ). Sontak saja para hadirin pada mengernyitkan kening tanda bertanya-tanya, kok bisa ? 

Dengan nada yang enteng bung saeful muzad menceritakan, kenapa seorang pemimpin itu harus seperti penis?  
  1. Tidak pernah menonjolkan diri, tapi tampil paling depan saat dibutuhkan.
  2. Ada saatnya keras, ada saatnya lembut ( menahan diri dan tahu situasi ).
  3. Dapat melahirkan generasi penerus baru / kaderisasi.
  4. Bisa " menyerang " pihak lawan, dengan tetap memberi kenyamanan.
  5. Meski terjadi gesekan - gesekan antara kedua belah pihak, namun pada akhirnya, kedua belah pihak bahagia.
  6. Setelah sukses mencapai target, posisi dan kedudukan, tidak besar kepala atau sombong, namun selalu mengecilkan diri. 
hahaha....para hadirin tertawa, manggut-manggut tanda setuju dan sontak memberikan uplouse meriah pada bung Saeful...kereennnnnnnnn………….
Apakah anda sepakat ? silahkan di renungkan....hehehe…..

Ternyata pelajaran ini di ambil dari seorang Pakar management Universitas Indonesia - Jurusan Psikologi Anatomi, yakni Prof. Idrus Sahab.

Selamat HUT RI ke - 70 dan Harti Jadi Kab. Banjarnegara ke 184
Wahono Akik 

Featured Post

Tetaplah Jadi Lentera

Saat kebanyakan orang sibuk mencari kesalahan orang lain untuk menyelamatkan diri sendiri, km cukup diam mengamati satu persatu orang&q...