Search This Blog

Popular Posts

Saturday, May 25, 2013

Membangun Manusia Indonesia yang Seutuhnya



Membangun Manusia Indonesia yang Seutuhnya merupakan konsep DASAR pendidikan bangsa Indonesia. Yang dalam hal ini tentu menjadi tanggungjawab dan wewenang dari Mentri Pendidikan dan lembaga yang di tanganinya.

Berbagai macam jenis kurikulum coba di berlakukan untuk dapat meraih tujuan pendidikan tersebut diatas. Dari konsep kurikulum Long Life Eduction, Kurikulum berbasis Kompetensi, Kurikulum Berbasis Budaya hingga kurikulum berbasis Karakter.

Namun demikian gonta-gantinya kurikulum tersebut diatas, ternyata belum mampu juga menjawab kebutuhan pendidikan bangsa ini sebagaimana tertuang dalam konsep dasar pendidikan nasional. Yakni kebutuhan dasar Membangun Manusia Indonesia yang Seutuhnya. Terlebih carut-marutnya program UN ( Ujian Nasional bukan Urip Ngapak hehehe... ), menambah jauh tercapainya tujuan dasar pendirikan nasional kita.

Lalu bagaimana agar konsep dasar pendidikan nasional kita dapat segera tercapai ?

Sekali lagi salah satu pendiri bangsa ini yakni Bung Karno pernah memberikan konsep dasar pembangunan bangsa, yang hingga saat ini saya pikir masih sangat mujarab dan akan relevan hingga kapanpun untuk menjawab persoalan jaman. Termasuk persoalan pendidikan bangsa.


Beliau pernah bilang begini “ untuk membangun sebuah nasionalisme, mustahil jika tidak di lakukan dengan cara membangun rasa cinta terhadap daerah. Dan itu artinya sama dengan nihilisme alias omong kosong. Kedua ; untuk membangun nasionalisme, mustahil dapat di lakukan, jika kita tidak menyelenggarakan keadilan sosial bagi masyarakat. Ketiga : Untuk membangun keadilan sosial, mustahil terjadi, tanpa kita mampu membangun kecukupan, ketahanan dan kedaulatan sandang, pangan lan papan “.

Dari ketiga nasehat Bung Karno ini, tentu kita dapat mengambil poin penting yang dapat kita lakukan untuk pembenahan system pendidikan kita. Betapa kurikulum kearifan lokal ini menjadi penting dan kuat guna membangun rasa nasionalisme bangsa. Manusia-manusia yang faham dengan dirinya, budayanya dan juga sejarah bangsanya inilah yang dapat bertahan dan melejit di era global pada saat ini. Bukan sekedar menguasai palajaran matematika dan bahasa ingris semata yang dapat memenangkan persaingan global. Tetapi lebih dalam dari itu, ia faham dengan persoalan dan kebutuhan kekinian. Ia faham sebab ia telah belajar tau diri, kenal diri, mengenal diri hingga akhirnya ia tau siapa jati dirinya, jati diri bangsa dan budayanya. Inilah manusia indonesia yang seutuhnya.

Sekali lagi dalam rangka membangun manusia Indonesia yang seutuhnya, kekuatan mulok alias kurikulum muatan lokal menjadi sangat kental untuk menentukan keberhasilan ketercapaian system pendidikan kita setelah munas ( Kurikulum muatan Nasional ). Tentu keberhasilan tujuan dasar pendidikan bangsa ini tidak akan berhasil juga, jika stekholder pendidikan tidak memiliki kesamaan mindset dalam meraih tujuan tersebut. Oleh karenanya, selain kurikulum itu adalah syarat mutlak harus baik, bagus dan tepat, para penyelenggara pendidikan-pun mesti faham dan terinstal sisi-sisi nasionalisme dan perjuangan-nya dalam mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Terakhir, dalam rangka ketercapaian tujuan dasar pendidikan nasional adalah sarpras alias sarana dan prasarana pendidikan yang memadai dan memiliki daya saing yang bagus. Sehingga dengan ini anggaran pendidikan sebesar 20% belum tentu cukup, juga bisa jadi lebih di setiap daerah. Artinya tidak ada ukuran baku mesti berapa persen di setiap daerah, untuk mengalokasikan anggaran pendidikan demi tercapainya tujuan dasar pendidikan nasional kita.

Jabat erat jiwa saya untuk Banjarnegara dan juga Ibu Pertiwi

No comments:

Post a Comment