Popular Posts

Thursday, August 9, 2012

Javanese Philosophy of Clothes

Siang terik matahari selepas kami mengikuti rangkaian acara “ Pit-Pitan Bareng Bupati Mbanjar “ yang dilaksanakan di lapangan Mandiraja Kulon, garapan PAC Pemuda Pancasila. Kami serombongan MPC PP Bara balik kerumah masing-masing. Ditengah perjalanan kami mampir di tempat kawan sambil melepas lelah, kita sharring tentang banyak hal. Dari bicara ngalor – ngidul tentang keris, politik, ekonomi dalam ajaran kitab Ihya Ulumudhin karangan Syech Imam Al-Ghozali, akhirnya obrolan fokus pada kupasan tentang ajaran dan nilai – nilai filosofis ageman jawa / pakaian adat jawa.

“ Mas, coba kamu bayangkan kostum adat jawa itu terdiri dari apa saja “ kata Gus Hayat sambil meminum secangkir teh dan menyalakan sebatang rokok kesukaan-nya yakni Mild. “ Blangkon, Baju Prajuritan, Keris, Jarit dan Slop Gus….” Jawabku agak sedikit ragu….


“ Apakah kamu tau bahwa kostum tersebut sebenarnya telah berbicara tentang banyak hal yang baik, yang diajarkan oleh para leluhur kita untuk kebaikan hidup kita…? “ sambungnya dengan nada penuh penekanan dan terasa begitu berat. “ Costum Lingustik Program, sesuatu yang luar biasa “ imbuhnya. Heemmm….kajian apa lagi dalam hatiku….

BLANGKON
Mari kita telaah dari yang paling atas ya mas…., Okey jawabku. Blangkon…, yah Blangkon. Kita sering sekali mendengar kata Blangkon, tetapi kita belum tau dan mengerti ajaran apa dan nilai-nilai apa yang ada dalam kata dan atau nama benda tersebut. Blangkon berasal dari sebuah kalimat yakni “ Nek Durung Gamblang, ya Takon “ Jika merasa belum begitu jelas atau merasa belum tau, maka beranilah untuk bertanya.

Sebuah ajaran luhur yang luar biasa, tentang penekanan arti penting kewajiban belajar dan terus belajar bagi generasi jawa supaya tidak ketinggalan atau terbelakang atau disebut sebagai sebuah suku yang primitive. Ini selaras dengan ajaran Islam yang menekankan bahwa “ مُسْلِمٍ كُلِّ عَلَى فَرِيْضَةٌ الْعِلْمِ طَلَبُ “ , Adalah kewajiban bagi kaum muslim baik laki-laki maupun perempuan untuk menuntut ilmu dimanapun dan kapanpun ia berada. Ajaran islam yang lain menyuruh kita sebagai kaum muslim untuk dapat  belajar sejak dini yakni dari buaiyan orang tua hingga ke liang lahat atau hingga akhir hayat ( Mati ) “  إِاللَّحْدِ لَى الْمَهْدِ مِنَ الْعِلْمَ اطْلُبُوْا “ .

KLAMBI PRAJURITAN ATAU KLAMBI TAQWA
Fase berikutnya, setelah kita belajar / menimba ilmu dan pengetahuan, tidak ada pakaian yang pantas untuk dikenakan kecuali pakaian Taqwa. Yakni pakaian ketaatan kepada perintah – perintah Tuhan ( Alloh SWT ). Dan dari berbagai macam bentuk pakaian, maka pakaian yang dibuat dan dipakai berdasarkan iman dan takwa itulah yang akan menjadi sarana untuk meraih rido Allah. Dalam kitab suci Al-Qur’an ditemukan kalimat “Libaasut-taqwa”, yang terdiri dari dua kata, yaitu “Libaasun” yang berarti “pakaian” dan berasal dari kata “La-bi-sa” yang berarti “memakai”. Ketika dikembangkan timbul kata “Albasa” yang berarti “menutupi”. Dan kata yang kedua adalah “Al-Taqwa” yang salah satu artinya adalah memelihara atau menjaga diri dari hal-hal yang tidak disukai Allah. Disinilah, kata “Libaasut-taqwa” kita artikan dengan “pakaian takwa” yang berfungsi untuk memelihara atau menjaga diri dari sikap atau perbuatan yang dapat menjatuhkan ke dalam jurang nista dan dosa, dengan cara memakai pakaian yang dapat menutupi yang tidak pantas kelihatan __ termasuk menutupi bagian-bagian anggota tubuh, yang biasa kita kenal dengan sebutan “aurat” __. Demikianlah yang dinamakan “pakaian takwa” menurut pendapat Abdurrahman bin zaid bin Aslam dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir. [ Ismail bin Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, jilid 2, Dar Al-Kutub Al-Mishriyah, tanpa tahun, hal. 207]

Marilah kita renungkan rekaman firman Allah : “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat”.[ QS. Al-A’raaf [7] : 26] Sungguh sangat beruntunglah hamba yang memilih baju atau pakaian yang dibentuk dan dipakainya berlandaskan iman dan takwa, karena ia telah berkiblat kepada kebenaran yang datang dari Allah.


KERIS
Keris iku soko tembung “ kudu bisa ngeker lan aris “ yang dalam bahasa indonesianya adalah bahwa dalam hidup itu hendaklah setiap individu mesti bisa belajar menahan hawa nafsu dan dapat bersikap arif. Cara yang terbaik untuk bisa belajar ngeker / menahan hawa nafsu adalah dengan berpuasa baik puasa lahir maupun batin. Sebab jika hanya berpuasa lahir saja, maka sudah barang tentu cukup banyak yang dapat melakukannya akan tetapi bagaimana dengan puasa batinnya? Ini yang mesti kita perlu belajar lagi dan belajar terus. Sebab tidak gampang…, iya kan kang bro…?

JARIT
Jarit iku soko tembung Jejer lan irit artinya bahwa dalam hidup, hendaknya kita mencari pasangan hidup itu yang baik dan tidak memiliki sifat boros. Dan yang terakhir adalah ;





SLOP
Slop iku soko tembung “ yenwis kesel ya di stop “, Jika sudah merasa capek dalam melakukan aktifitas maka berhentilah dan atau beristirahatlah. Sehingga badan ini dapat terjaga dari berbagai macam penyakit. Sebab pada posisi badan capek atau lelah metabolism tubuh menurun sehingga penyakit dapat mudah masuk dna menyerang. Jika dalam kondisi lelah dan capek, kita beristirahat maka kemungkinan bibit penyakit akan masuk akan terhindar.

Banjarnegara, 20 Mei 2012
Gus Hayat and Friends

No comments:

Post a Comment

Featured Post

Tetaplah Jadi Lentera

Saat kebanyakan orang sibuk mencari kesalahan orang lain untuk menyelamatkan diri sendiri, km cukup diam mengamati satu persatu orang&q...