Search This Blog

Popular Posts

Tuesday, August 7, 2012

Menatab Banjarnegara Dari Perspektif Pariwisata

Anugerah terindah dari Tuhan Allah SWT kepada Bangsa ini selain memiliki sumber daya alam seperti Emas, Minyak dan Gas Bumi adalah Keindahan alamnya. Bali sebagai salah satu wisata andalan bangsa tidak menjual teknologi melainkan menjual ke-eksotisan alamnya. Dan jika kita mencermati sedikit lebih detail saja, ternyata keindahan alam seperti bali hampir dimiliki disetiap pulau yang ada di Indonesia. Tak terkecuali di Banjarnegara, sebuah kota kecil yang hampir tidak ada dalam peta Nasional. Beruntung Program Visit Jawa Tengah, Dieng Banjarnegara masuk kedalam kategori dan berada dalam satu situs pilihan 5 besar lokasi wisata di Jawa Tengah setelah Borobudur, Karimun Java, Lawang Sewu dan Masjid Agung Jawa Tengah.


Secara pribadi, penulis merasa bangga begitu melihat potensi yang ada di kota kelahiran saya yakni kota tercinta Banjarnegara. Dari 20 Kecamatan yang ada, jika di rata - rata maka tiap kecamatan memiliki dua lokasi wisata. Artinya Kabupaten Banjarnegara memiliki 40 titik lokasi wisata yang luar biasa yang belum di ekspose dan di garap dengan sunguh sungguh.

Mengacu data statistik dari Badan Pusat Statistik Nasional, ternyata pariwisata merupakan sektor ekonomi penting di Indonesia. Sebab data pada tahun 2009, pariwisata menempati urutan ketiga dalam hal penerimaan devisa setelah komoditi minyak dan gas bumi serta minyak kelapa sawit. Artinya sektor pariwisata menjadi sangat penting juga dalam proses pembangunan bangsa dan Negara. Tanpa kecuali di tingkat daerah sekalipun. Ini adalah sebuah potensi yang mesti di gali dengan baik dan optimal.

Kembali kepada sorotan potensi pariwisata di Banjarnegara. Jika kita kategorikan, lokasi – lokasi wisata yang ada di Banjarnegara tersebut dapat dimasukan ke dalam kategori lokasi wisata alam, wisata spiritual, wisata budaya. Ini juga sama persis dengan potensi yang dimiliki oleh Bali. Pertanyaannya jika bali saja bisa meng expose sedemikian rupa potensinya, mengapa Banjarnegara tidak ?

Persoalan di tingkat nasional, carut – marut dunia pariwisata nasional secara langsung maupun tidak langsung, jelas berimbas pada kegiatan pariwisata di tingkat regional dan local sekalipun. 17 amanah undang  - undang Kepariwisataan menunggu segera dapat di realisasikan. Metodologi konvensional yang selama ini di terapkan guna mendongkrak kunjungan wisata baik domestic maupun manca nagara jelas sangat boros. Kita kurang berani untuk dapat membuat terobosan baru dalam hal memarketingkan potensi wisata kita. Disadari atau tidak perubahan era demi era terus berjalan dengan cepatnya. Siapa-pun itu baik lembaga, elemen kemasyarakatan maupun individu sekalipun jika tidak mampu untuk mengikuti perubahan era ( jaman ) tersebut, maka ia akan tergilas habis oleh keganasan era ( jaman ) tersebut.

Jika dahulu kala kita mengenal apa yang di sebut dengan era industry ( era 90an ) kemudian berkembang menjadi era globalisasi ( era 20an ), maka saat ini dunia begitu berkembang pesat dan memasuki era teknologi dan informasi. Siapapun yang mampu menguasi teknologi dan informasi, maka ialah yang akan menjadi salah satu pemanangnya. Menguasai bukan berarti memiliki. Ini mesti di catat dengan tinta tebal.

Di era teknologi dan informasi ini, begitu mudahnya koneksi antar Negara, pulau, lembaga maupun individu sekalipun. Internet bukan lagi jadi momok yang menakutkan, Internet sudah menjadi kebutuhan. Kita dapat memanfaatkan teknologi internet ini sebagai senjata marketing. Misalkan melalui program “ Aviliate “ kita bisa bekerjasama dengan Blogger di Dunia untuk bisa membantu memarketingkan potensi pariwisata kita baik di tingkat nasional, regional maupun local sekalipun. Melalui kekuatan advertising Google Adv ataupun Facebook Adv juga tidak bisa di sepelekan. Daya ungkit terhadap pendongkrakan secara signifikan kunjungan wisata dapat di bilang peluangnya sangat besar. Pertanyaan-nya, mengapa kita belum melakukan hal ini ? sulitkah ? atau tidak tahukan ? atau enggankah ?

Ketiga program internet marketing tersebut jika di optimalkan selain low cost juga tidak ribet, seribet metodologi konvensional yang sudah bertahun-tahun di lakukan. Kita hanya perlu memilah-milah dan memilih, pameran dan kunjungan promosi mana yang dianggap urgent untuk di lakukan secara convensional. Jika dianggap kurang efektif untuk di lakukan, maka tidak perlu di lakukan. Dan segera melakukan inovasi dan terobosan baru dalam hal marketing. 

Penulis berfikir, bahwa hanya dengan niat yang baik, tekad yang kuat kita akan mampu mewujudkan visit Banjarnegara Year 2014. Ini adalah visi besar dan serius. Tentunya hanya dapat di gapai dengan keseriusan dan kesungguh-sungguhan. Kerjasama antar stakeholder pariwisata menjadi salah satu penentu sukses dan tidaknya program tersebut.

Hingga artikel ini dirilis, penulis merasa bahwa potensi yang luar biasa dengan 40 titik lebih lokasi wisata lebih, di daerah Banjarnegara belum terberdayakan dengan optimal. Terbukti arsip yang masuk di data nasional yakni di visatanesia.com baru ada 14 lokasi visata. Itupun yang 11 adalah dieng punya. Artinya baru ada 4 titik wisata yang di expose. Itupun dengan deskripsi dan foto yang sangat minimalis dan tidak berkarakter sebagai karya fotografer. Membangun informasi di dunia maya tidak bisa egois. Artinya. Dalam dunia mayapun kita mesti bersosialisasi dengan sesama pelaku wisata di berbagai daerah yang telah berdunia maya juga. Sehingga saling tukar informasi yang akurat dan tukan menukar link menjadi penting sebagai wujud kebersamaan dan bukti real silatumaya ( yakni silaturrahmi dunia maya ). Inilah implementasi atas ajaran para pendiri bangsa tentang arti pentig sebuah kata Kemitraan Berjaring.

Oleh Wahono 

No comments:

Post a Comment